Pages

Saturday, 4 July 2009

Gaji ke 2 Ask2link

Finally, pembayaran dari Ask2Link yang kedua sampai juga ke akun PayPal. Lumayan buat tambahan beli laptop, so kedepannya ga perlu lagi nongkrongin warnet punya teman.

Walaupun terbilang kecil, tapi ga masalah. Hanya $4 coy, total ada $8 karena laku dua link. Secara aku baru saja ikutan bisnis jualan link ini, jangan di ketawain kalau memang earning masih sangat kecil. Link terjual saja aku udah sangat bersyukur.

Mohon maaf screenshotnya belum ku buat, oh iya pendapatan dari ask2link ini berasal dari blogku yang lain

Program jualan link ini bisa diikuti blogspot maupun WP. Jualan link di Ask2Link bisa dibilang susah-susah gampang. Susah karena tergantung ada advertiser yang mau membeli link kita atau tidak. Mudah, karena kita tinggal pasang kode yang telah disediakan, setelah itu kita biarkan saja. Tidak seribet ikutan Paid to review.

Pembayaran bisa dilakukan lewat paypal dan tidak ada minimum payout untuk jumlah earning yang kita dapatkan setiap bulanya. Dengan kata lain berapapun jumlah earning yang kita dapatkan kita akan dibayar setiap awal bulannya.

Seperi bisnis jualan link lainya, penentuan harga link sangat tergantung pada PR blog kita, meskipun kita juga bisa menetukan harga sesuai dengan keinginan kita sendiri. tetapi lebih disarankan memasang harga sesuai dengan Page Rank blog kita

Ini nih daftar harga di ask2link, berdasarkan PR blog:

PageRank (PR) 0 : $1
PageRank (PR) 1 : $2
PageRank (PR) 2 : $4
PageRank (PR) 3 : $5
PageRank (PR) 4 : $10
PageRank (PR) 5 : $15
PageRank (PR) 6 : $30
PageRank (PR) 7 : $80
PageRank (PR) 8 : $160

Ada yang tertarik mengikuti jejakku berjualan link di ask2link? silahkan mendaftar di sini.

Pingin tahu informasi tentang jualan link yang bukan scam, dan sedikit tips dari saya, eh bukan tips ding tapi lebih pada berbagi pengalaman. Sering-sering aja berkunjung ke blog ini...ga...ga...ga...

Sunday, 28 June 2009

Cara Mendapat Banyak Pengikut Twitter

cara ini aku dapat dari Mas Cosa. Tentunya rekan blogger sudah tidak asing dengan yang namanya Twitter dan sudah banyak yang menggunakannya pula.

Proses SEO saat ini memang sudah merambah ke layanan Twitter maupun yang sejenisnya. Jadi sudah tidak perlu diragukan lagi betapa vitalnya peran Twitter ini.


Cara yang saya ikuti ini tergolong mudah dan praktis. Selain itu pengikut akan terus bertambah tanpa harus bersusah payah.

Layanan gratis ini disebut TweeterGetter. Tinggal memasukkan username dan password Twitter, kemudian klik tombol tweet now. Promosikan link referal agar pengikut semakin bertambah banyak dari waktu ke waktu.

Selamat mencoba.....!


Friday, 26 June 2009

Mengecek Posisi Blog di Google

Bisa berada di halaman awal google menjadi cita-cita hampir semua blogger. Segala daya dan upaya pun dilakukan untuk meraihnya. Tentunya dengan kata kunci masing-masing. Naik turun posisi blog/situs web adalah hal yang lumrah terjadi.

Apabila berada di deretan atas hasil pencarian, tentu tidak sulit untuk mengeceknya. Cukup dengan membuka google.co.id, ketikkan kata kunci maka akan langsung terlihat posisi atau urutan situs web/blog Anda.

Bagaimana jika tidak berada di halaman depan? Sangat merepotkan bila harus mengecek satu per satu pada halaman hasil pencarian. Lalu bagaimana cara termudah untuk mengeceknya?

Menggunakan google top 1000 serps checker adalah caranya.

Penggunaannya pun sangat mudah, klik di sini untuk membukanya.

Bila sudah terbuka halaman situs, langkah selanjutnya pada select a Google, anda pilih Google Indonesia (google.co.id).

Selanjutnya untuk target keyword, masukkan kata kunci blog Anda masing-masing. Kemudian ketikkan alamat URL anda, misalnya www.ot-indo.blogspot.com. Lalu tekan submit.

Tunggu prosesnya dan hasilnya akan segera terlihat.


Kok situs web atau blog saya nggak nongol dalam hasilnya ya?

Itu artinya blog atau situs web sampeyan belum masuk 1.000 besar di Google. So, bekerjalah lebih keras lagi.

Saturday, 20 June 2009

Kontroversi Imunisasi sebagai Penyebab Autis

Menanggapi postingan Bunda Nisha tentang kekhawatiran para orang tua terhadap imunisasi yang akhir-akhir ini santer diberitakan dapat menyebabkan autis maupun hiperaktif. Kali ini Blog Okupasi Terapi 'Penthol Kramat' akan mencoba mengulasnya.

Jumlah penyandang spektrum Autis tampaknya semakin meningkat pesat. Autis seolah-olah mewabah ke berbagai belahan dunia. Di beberapa negara terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autis yang cukup signifikan termasuk juga Indonesia, meskipun belum ada data valid yang menyebutkannya. Akan tetapi mulai meningkatnya jumlah kunjungan di berbagai rumah sakit dan klinik yang melayani terapi untuk anak berkebutuhan khusus mengindikasikan bahwa autis mulai mewabah di Indonesia benar adanya.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial

Dr. Widodo Judarwanto SpA telah menjelaskan tentang fenomena ini dalam blognya, berikut adalah kutipannya:

Kontroversi yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan Autis dengan imunisasi anak. Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa beberapa jenis imunisasi khususnya kandungan Thimerosal dapat mengakibatkan Autis. Akibatnya, anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya. Penyakit tersebut adalah hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa Autis tidak berkaitan dengan thimerosal. Memang terdapat teori atau kesaksian yang menunjukkan bahwa Autis dan berhubungan dengan thimerosal.

Thimerosal atau Thiomersal adalah senyawa merkuri organik atau dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat, yang mengandung 49,6% merkuri. Bahan ini digunakan sejak tahun 1930, sebagai bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Thimerosal yang merupakan derivat dari etilmerkuri, sangat efektif dalam membunuh bakteri dan jamur dan mencegah kontaminasi bakteri terutama pada kemasan vaksin multidosis yang telah terbuka. Selain sebagai bahan pengawet, thimerosal juga digunakan sebagai agen inaktivasi pada pembuatan beberapa vaksin, seperti pertusis aseluler atau pertusis ”whole-cell”. Food and Drug Administration (FDA) menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet. Pada dosis tinggi, merkuri dan metabolitnya seperti etilmerkuri dan metilmerkuri bersifat nefrotoksis dan neurutoksis. Senyawa merkuri ini mudah sekali menembus sawar darah otak, dan dapat merusak otak.

WHO (Worls Health Organization), FDA (Food and Drug Administration), EPA (US Enviromental Protection Agency), dan ATSDR Amerika Serikat (Agency for Toxis Substances and Disease Registry) mengeluarkan rekomendasi tentang batasan paparan etilmerkuri yang masih bisa ditoleransi antara 0,1 – 0,47 ug/kg berat badan/hari. Kandungan yang ada di dalam vaksin adalah etilmerkuri bukan metilmerkuri. Etilmerkuri hanya mempunyai paruh waktu singkat di dalam tubuh, sekitar 1,5 jam, selanjutnya akan dibuang melalui saluran cerna. Sedangkan metilmerkuri lebih lama berada di dalam tubuh.

Pendapat yang mendukung Autis berkaitan dengan Thimerosal :
Terdapat beberapa teori, penelitian dan kesaksian yang mengungkapkan Autis mungkin berhubungan dengan imunisasi yang mengandung Thimerosal. Toksisitas merkuri pertama kali dilaporkan tahun 1960 di Minamata Jepang. Konsumsi ikan laut yang tercemari limbah industri, sehingga kadar merkuri yang dikandung ikan laut tersebut mencapai 11 mcg/kg dan kerang 36 mcg/kg (batas toleransi kontaminasi sekitar 1 mcg/kg). Penelitian pada binatang ditemukan efek neurotoksik etilmerkuri dan metil merkuri. Ditemukan kadarnya di dalam otak cukup tinggi pada metil merkuri. Hal ini menunjukkan bahwa merkuri dapat menembus sawar darah otak.

Saline Bernard merupakan perawat dan juga orang tua dari seorang penderita Autis bersama beberapa orang tua penderita Autis lainnya melakukan pengamatan terhadap imunisasi merkuri. Mereka bersaksi di depan US House of Representatif (MPR Amerika) bahwa gejala yang diperlihatkan anak Autis hampir sama dengan gejala keracunan merkuri. Beberapa orang tua penderita Autis di Indonesiapun, berkesaksian bahwa anaknya terkena autis setelah diberi imunisasi

Penelitian dan rekomendasi yang menentang Thimerosal menyebabkan Autis
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa Thimerosal tidak mengakibatkan Autis juga lebih banyak lagi. Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di denmark seperti Danish Epidemiology Science Centre, Department of Epidemiology and Social Medicine, University of Aarhus, Denmark Institute for Basic Psychiatric Research, Department of Psychiatric Demography, Psychiatric Hospital in Aarhus, Risskov, National Centre for Register-Based Research, University of Aarhus, Aarhus,Denmark, State Serum Institute, Department of Medicine, Copenhagen, Denmark mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita Autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian Thimerazol dengan Autis.

Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autis di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi Thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian Thimerosal pada Autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa Thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan).

Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2 986 654 anak pertahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.
Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan Autis.


Bagaimana sikap kita sebaiknya ?

Bila menyimak dan mengetahu kontroversi tersebut tanpa memahami dengan jelas, maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan Autis dan imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas. Maka, akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentang Thimerosal tidak mengakibatkan Autis secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat. Laporan beberapa penelitian dan kasus jumlahnya relatif tidak bermakna dan dalam populasi yang kecil. Hanya menunjukan kemungkinan hubungan tidak menunjukkan sebab akibat. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan bahwa memang Thimerosal dalam vaksin memang benar aman.

Walaupun paparan merkuri terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala Autis. Peristiwa tersebut mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Metalothionein merupakan suatu rantai polipeptida liner tediri dari 61-68 asam amino, kaya sistein dan memiliki kemampuan untuk mengikat logam. Pada penderita Autis tampaknya didapatkan adanya gangguan metabolisme metalotionin. Gangguan metabolisme tersebut dapat mengakibatkan gangguan ekskresi (pengeluaran) logam berat (merkuri dll) dari tubuh anak autis. Gangguan itu mengakibatkan peningkatan logam berat dalam tubuh yang dapat mengganggu otak, meskipun anak tersebut menerima merkuri dalam batas yang masih ditoleransi.

Pada anak sehat bila menerima merkuri dalam batas toleransi, tidak mengakibatkan gangguan. Melalui metabolisme metalotionin pada tubuh anak, logam berat tersebut dapat dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi pada anak Autis terjadi gangguan metabolisme metalotionin.Kejadian itulah yang menunjukkan bahwa imunisasi yang mengandung thimerosal harus diwaspadai pada anak yang beresiko Autis, tetapi tidak perlu dikawatirkan pada anak normal lainnya.

Penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan Autis dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan bergitu saja. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada, bila anak sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini. Dalam kasus tersebut untuk mendapatkan imunisasi yang mengandung Thimerosal harus berkonsutlasi dahulu dengan dokter anak. Mungkin harus menunda dahulu imunisasi yang mengandung thimerosal sebelum dipastikan diagnosis Autis dapat disingkirkan. Dalam hal seperti ini, harus dipahami dengan baik resiko, tanda dan gejala autis sejak dini.
Bila anak tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda tanda dini terjadinya Autis maka tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik, akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari imunisasi, beresiko terjadi akibat berbahaya dan dapat mengancam jiwa. Bila anak terkena infeksi yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

Thursday, 18 June 2009

Top Blogwalking Award dari Master 3DsMAX

Lagi-lagi dapat warisan, senangnya. Biarpun berupa award, tapi sangat berarti bagi Aku. Tidak sia-sia jerih payahku di dunia maya, terutama dalam hal blogging ternyata dihargai oleh orang lain. Ditambah lagi bayaran dari program make money online semacam ciao, ask2link, dan buyblogreviews sampai juga ke rekening paypal aku minggu ini. Rasa penasaranku terhadap bisnis online melalui monetize blog terjawab sudah, walaupun hasilnya belum seberapa.

Tau ngga sih, award kali ini adalah yang ke 10. Terasa sangat spesial karena memang diberikan secara spesial dan dipersembahkan pula oleh seseorang yang spesial dalam bidang 3DsMAX, SwishMax, Kaligrafi, PhotoShop, dan lain-lain. Silahkan mampir ke blognya di sini, di jamin gak rugi kok. Hasil-hasil karya beliau terbilang 'sungguh mempesona'.

Ini dia awardnya:



Keren kan....? So, tidak salah kalau Brother ems dijuluki 'Master Design Graphic'. Thanks berat ya Brother atas kepercayaannya memberi mandat untuk memasang award sebagai Top Blogwalking.

Terima kasih juga buat teman-teman semua yang telah sudi berkunjung ke gubug disko 'Penthol Kramat' milik Rinto yang lebih banyak berisis tentang profesi okupasi terapi ini. Karena kalian semua membuat aku terus bersemangat untuk terus belajar di dunia blogger.

Best Regards,


Rinto