Pages

Friday, 15 May 2009

Award..Award...dan Award

Lumayan dapat award lagi, kalau ga salah ini yang ke 4. Sebenarnya di sini bukan tempat semestinya untuk memajang Award pemberian sobatku, Dialah Bro eRGe, yang telah banyak membantu aku dalam mengotak-atik blog. Thanks banget ya Bro dan maaf aku pasang Awardnya di blog yang di sini bukan yang Berbahasa Linggis eh....INggris ding.

Kata Bro eRGe sih, untuk menampilkan award ini cukup ada satu syarat, yaitu tinggal copy paste kode Awardnya kemudian di posting. Simple kan?

Dengan bangga Kupersembahkan Award pemberian Sob eRGe ini untuk siapapun yang membaca postingan ini. Aku tidak mau mengkotak-kotakkan ataupun membeda-bedakan siapa saja yang berhak aku beri dan siapa pula yang belum mendapat kesempatan untuk ku beri Award. So, bagi siapapun yang mau dan tertarik silahkan ambil saja

Ini dia Awardnya, keren kan?
eRGe Award


P.S.: untuk sobat-sobat blogger yang memberi Award di blog Rintos Mind, dengan segala kerendahan hati, maka mulai hari ini akan aku post kan di blog Penthol Kramat ini. Harap maklum, Terima Kasih

Kredibilitas Blog, Pentingkah?

Kemarin tanpa sengaja aku kesasar di sebuah blog milik Mbak Doesc. Ada satu artikel yang membuatku tertarik untuk menelaah lebih lanjut, yaitu tentang Membangun Kredibilitas Bisnis.

Beliau menjabarkan pentingnya Kredibilitas dan beberapa cara untuk membangunnya. Menurutku hal tersebut blog kita, terutama blog yang memang dibuat untuk bisnis internet.

Lalu bagaimana cara membangun kredibilitas itu?

Tapi sebelumnya ada 1 pertanyaan, menurut anda kredibilitas itu apa ya? Kalau menurutku kredibilitas itu berkaitan dengan nama baik dan kepercayaan.

Nah, sekarang saatnya aku beberkan cara membangun kredibilitas blog yang pernah aku baca di beberapa blog para master.

Blog berdomain nama sendiri. Seandainya memang serius terjun dalam bisnis internet maka domain dengan nama sendiri wajib hukumnya. Akan lebih baik jika bukan menggunakan domain gratisan loh. Dengan domain nama sendiri akan mempermudah seseorang menemukan nama Anda dalam pencarian di mesin search engine. Seseorang tinggal mengetikkan nama Anda, maka nama Anda akan muncul. Bila nama muncul berarti itu juga menunjukkan eksistensi Anda.

Konsisten. Membuat blog itu mudah, hal yang tersulit adalah blogging secara konsisten. Betul tidak? Kesuksesan blog tergantung kekonsistenan Anda. Kalau blog yang telah selesai dibuat kemudian ditelantarkan begitu saja, bagaimana bisa meraih kesuksesan?

Fokus di niche blog. Dalam hal ini Anda ingin dikenal orang lain sebagai apa? Biar kata Anda punya banyak minat dan keahlian tetapi tidak fokus nanti akan susah sendiri. Sebaiknya fokus pada satu atau beberapa hal saja, jangan membuat bingung pengunjung dengan isi blog yang beraneka ragam.

Merespon komentar di blog orang lain. Menuruku merespon bisa diartikan dua hal. Pertama: Menjawab pertanyaan orang lain. Menjawab lebih dilirik orang lain dari pada terus menerus bertanya. Kedua: jangan asal memberi komentar, yang lebih kritis terhadap isi artikel akan lebih menjadi pusat perhatian daripada yang hanya asal titip tulisan ataupun hanya sekedar nampang.

The most important is, membangun kredibilitas itu tidak mudah dan perlu jangka waktu lama. Tidak hanya satu atau dua hari. So, yang perlu dilakukan adalah beraksi mulai sekarang, tekun, ikhlas, dan setia dalam menjalaninya. Dan prinsip hari ini lebih baik dari kemarin bisa juga di terapkan.

Ada pendapat lain? Silahkan menambahkan, sumonggo....!

Thursday, 14 May 2009

Kenapa Pisah Ranjang?

Kenapa mereka tak lagi bersama, ada apakah gerangan, adakah pihak ke tiga yang menyebabkan mereka tercerai berai?

Meski terpisahkan, tapi ku tahu kalian adalah satu. Dan akan selamanya bersatu, karena kalian adalah bagian tak terpisahkan. Satu hati, satu tujuan.

Puisi bukan? Pantun juga bukan? Terus apaan? Makanya di baca sampai tuntas ya...

Sekedar ingin menuangkan uneg-uneg, beban pikiran yang telah sekian lama terpendam. Salah kalau ini soal kisah percintaan, karena memang bukan.

Lihat deskripsi judul pada header, 'coretan seorang okupasi terapis'. Itulah profesi aku saat ini. Dan jangan heran saat aku berkunjung ke rumah sobat blogger semua, di shout mix kalian sering ada tulisan 'kunjungan dari penghuni RSJ'. Yup, karena aku memang bekerja di sebuah Rumah Sakit Jiwa milik pemerintah. Tepatnya sebuah kota tua di Jawa Tengah yg di apit oleh 4 gunung; Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Balik lagi ke kata2 di awal postingan yang penuh pertanyaan tadi. Siapakah yang pisah ranjang? Bukan aku, bukan pula para selebritis yang katanya suka kawin cerai. Kata-kata tadi hanya perumpamaan apa yang terjadi pada area kerjaku.

Okupasi Terapi dan Sensori Integrasi. Kenapa mereka di pisah, padahal Sensori Integrasi adalah bagian dari Okupasi Terapi dan ini hanya terjadi di Indonesia. Hebat ya orang Indonesia.....he..he..

Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin dari segi bisnis lebih menguntungkan bila ke duanya di pisah. Yang jelas aku hanya ingin memberi informasi yang benar tetapi juga tidak menyalahkan apa yang terjadi selama ini, apa yang dilakukan oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan.

Bukti yang membenarkan bahwa Sensori Integrasi adalah bagian dari Okupasi Terapi, diantaranya:

1. Penemu Sensori Integrasi, Jean Ayres. Adalah seorang Okupasi Terapi.
2. SK MenKes RI No.511/MenKes/SK/VI/1994 tentang pemberlakuan 8 tindakan pelayanan Okupasi Terapi, satu di antaranya adalah Sensori Integrasi


Dua bukti itu aku rasa sudah cukup untuk dijadikan pembenaran. So, sudah jelaskan Sensori Integrasi itu bagian dari pelayanan Okupasi Terapi. Selain itu hal tersebut juga menunjukkan siapa sebenarnya yang berhak melakukan tindakan Sensori Integrasi. You know the answer...

Wednesday, 13 May 2009

Menaikkan Traffic Ala Rani Juliani

Siapa sih yang ga tau Rani Juliani? Yup..sosok wanita yang konon cerita cantiknya seperti bidadari sehingga membuat para lelaki jadi kepincut dan jatuh hati. Salah satunya adalah sang pangeran Nasrudin, yang pada akhirnya mempersunting sang bidadari.

Rani, begitu panggilannya. Dahulu hanya dikenal oleh orang-orang dekat saja, hingga akhirnya menjadi selebritis dadakan. Sebuah berita heboh tentang penembakan sang pangeran menggemparkan dunia dan melambungkan namanya. Berita tentang foto bugil artis Indonesia kalah kalee.

Guys, sudah pada tau dong blog nya Rani? Ternyata dia punya jurus jitu untuk menaikkan traffic blog. Sebelum naik daun, blog dia itu jumlah pengunjung per hari mungkin hanya segelintir orang saja. Tapi sekarang pengunjung blog dia tiba-tiba meningkat drastis boo. Dalam sehari bisa nyampe ratusan bahkan ribuan visitor. Hebat ga tuh..(ckikik..wek..).

Beda banget dengan blog ku, sepi pengunjung. Harap maklum, masih newbie dan buta soal SEO. Bikin satu blog saja, mesti ngalor ngidul, tanya sana sini. Seandainya tidak ada Bro Yoyok, Bro Erge, Bro Nur Rachmad, Sob Chempluk, Sob Blogger Ceria, dan Kang Tikno, mungkin aku sama sekali ga tau soal dunia blog. Dengan segudang pengetahuan tentang tips dan trik ngeblog, mereka mau bermurah hati untuk mengajariku. Selain mereka tentu saja Tutorial Blog dari Kang Rohman adalah rujukan utama ku. Thanks alot for your kindness guys.

Wew, kok malah jadi melenceng dari pokok bahasan ya? Ok, kembali ke lap..oran utama tentang tips menaikkan traffic blog ala Rani Nasrudin. Kira-kira jurus apa ya yang dipakai Rani?

We..e..e..e..ternyata eh ternyata, berita pembunuhan Nasrudin dan isu tentang cinta segi tiga nya dengan pejabat dari kerajaan lain, sebut saja Antasari Azhar itu loh. So, itulah tips SEO yang ditemukan oleh Rani Juliani secara ' TIDAK SENGAJA '.

Wah..wah..wah..masa cuma mau bikin blog kita jadi kebanjiran pengunjung aja harus pake cara begono. Hayo ada yang mau ga?

Artikel ini hanyalah guyonan belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu memang Aku sengaja.

Sekian dulu berita dari balik RSJ, jangan lupa tinggalin komentar ya.

Tuesday, 7 April 2009

Cerita Planet X dan Nibiru

Isi tulisan kali ini aku dapat dari blog sobatku sewaktu masih kost di Solo. Nama panggilannya Maz Blend, ga tau juga bisa di panggil begitu. Mungkin karena badannya yg gembul kali ya. Kalau nanti pada ngeri, jangan salahin aku loh. Let's begin....


Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.

“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” - Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan

Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

FAKTA LAIN MENGENAI NIBIRU

Planet X pertama kali dikemukakan Percival Lowell tahun 1902 sebagai planet hipotetik yang gravitasinya sanggup menyimpangkan (sedikit) pergerakan Neptunus dan Uranus dari lintasan idealnya. Planet X merupakan kelanjutan hipotesis John Couch Adams dan Urbain LeVerrier setengah abad sebelumnya, yang bekerja sendiri2 namun sama2 menyimpulkan adanya planet tak dikenal yang mengganggu orbit Uranus, yang berujung mengagumkan dengan penemuan Neptunus oleh Galle dan d’Arrest lewat mata tajam teleskop observatorium Berlin pada tahun 1846.

Terinspirasi sukses ini, setelah menganalisis penyimpangan gerak Merkurius serta Uranus dan Neptunus, Le Verrier meramalkan sedikitnya ada 2 planet lain yang masih “bersembunyi”, menunggu ditemukan. Yang pertama disebut planet transneptunik, yakni planet cukup massif yang letaknya lebih jauh dibanding Neptunus. Yang kedua adalah Vulkan, planet massif yang lebih dekat ke Matahari dibanding Merkurius.

Untuk planet trans neptunik, segera muncul ratusan proposal yang masing2 mencoba memprediksi lokasi planet tak dikenal itu. Dua yang populer diusulkan Lowell dan Pickering. Lowell dengan “Planet X” nya, sementara Pickering dengan tujuh planet hipotetiktrans-Neptuniknya, yang masing2 diberi nama planet O, P, Q, R, S, T dan U. Menariknya sifat2 Planet O hampir mirip dengan Planet X-nya Lowell. Cerita lengkap soal ini bisa anda baca di situs The Nine Planets pada artikel “Hypotethical Planets”. Singkatnya, dari saat Clyde W Tombaugh menemukan Pluto (1930) sampai Jewit dkk. menemukan asteroid transneptunik 1992 QB 1 (1992) tak ada satupun benda langit yang dapat dijadikan kandidat Planet X.

Pluto sendiri cukup mengecewakan, mengingat massanya “hanya” 1/400 massa Bumi, jauh dari cukup untuk menjadi Planet X / Planet O yang massanya diestimasikan sebesar 2 - 6 massa Bumi. Justru di kawasan yang semula diduga menjadi habitat Planet X ini ternyata menjadi tempat bercokolnya 1 - 10 milyar asteroid transneptunik yang membentuk cakram raksasa bernama Sabuk Kuiper, dengan dinamika dikontrol oleh kombinasi gravitasi Jupiter - Saturnus - Uranus - Neptunus. Asteroid-asteroid ini baru ditemukan sejak 1992 silam meski keberadannya sudah diramalkan Gerald P. Kuiper setengah abad sebelumnya. Lantas bagaimana dengan penyimpangan orbit Uranus dan Neptunus?

Hal ini diuji secara tak langsung oleh Voyager 2 ketika mengukur ulang massa planet Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus dengan akurasi sangat tinggi dalam Grand Tour 1979 - 1989. Ketika hasil pengukuran Voyager ini dimasukkan dalam hitungan Le Verrier, ternyata penyimpangan itu menghilang! Disini jelas bahwa ide akan Planet X dibangun dari deviasi standar statistika hasil pengukuran astronomi abad ke-19 yang tentu saja tingkat ketelitiannya tidak setinggi pengukuran saat ini. Mengenai Vulkan, problem itu sudah terjawab di tahun1916 ketika Einstein mengapungkan teori relativitas umum-nya yang menggemparkan. Menurut Einstein, salah satu konsekuensi dari membengkoknya ruang waktu disekitar benda massif seperti Matahari adalah terjadinya pergeseran permanen (presesi) terhadap titik perihelion Merkurius, yang mencapai 43 detik busur per abad. Presesi perihelion inilah yang teramati oleh Le Verrier, jauh hari sebelum Einstein lahir.

Planet Nibiru
Nibiru, menurut Landsberger dan K. Wilson merupakan titik tetap di langit atau bintang kutub. Zecharia Stichtin dan Burak Eldem, mengklaim Nibiru adalah catatan kuno Sumeria mengenai planet tak dikenal. Pada http://xfacts.com/ Nibiru disebutkan sebagai planet tempat berdiamnya Annunaki (dewanya orang Sumeria) yang mengorbit Matahari kita dalam 3.600 tahun. Namun klaim Stichtin tidak didukung fakta ilmiah astronomi dan arkeologi. Apalagi jika kemudian Nibiru dikait-kaitkan dengan Planet X, yang sudah kita ketahui sejauh ini memang tidak ada.

Lepas dari soal ada tidaknya Nibiru, ada beberapa hal dalam selebaran tersebut yang ternyata tidak menyebutkan siapa penulisnya, hanya tertulis dari aliflamra1711@gmail.com namun menarik untuk kita analisis.

Pertama, dikatakan planet Nibiru memiliki massa 100 kali massa Bumi kita, dengan diameter - merujuk pada grafis - menyamai Saturnus atau sebesar 120.000 km (sebagai pembanding, diameter Bumi kita “hanya” 12.756 km alias seper sepuluhnya saja). Bila kita anggap Nibiru berbentuk bulat, kita bisa memperkirakan densitasnya yang ternyata sebesar 0,66 gram/cc, alias lebih ringandari air (!). Adakah benda langit yang densitasnya mirip2 Nibiru? Ada, malah banyak! Asteroid-asteroid transneptunik penghuni Sabuk Kuiper dan kometisimal2 ‘penduduk’ Awan Komet Oort juga memiliki densitas kurang dari 1 gram/cc. Analisis spektroskopi menunjukkan hal ini disebabkan oleh komposisi penyusun benda2 langit itu didominasi oleh materi-materi ringan seperti senyawa karbon dan debu-debu silikat berselubung es, dengan permukaan gelap dan memadat akibat terjangan radiasi sinar kosmis.

Anggaplah Nibiru beredar mengelilingi Matahari kita dalam 3.600 tahun sekali. Dengan Hukum Kepler 3, kita bisa mengetahui jarak (rata2) orbitnya terhadap Matahari adalah 235 AU alias 35,25 milyar km. Orbit ini sudah berada di luar cakram Sabuk Kuiper (yang radius maksimalnya ‘hanya’ 7 milyar km dari Matahari) dan kemungkinan besar sudah masuk ke dalam kawasanhunian Awan Komet Oort bagian dalam. Berdasarkan jarak orbit dan densitasnya, kita bisa saja mengatakan Nibiru adalah bagian dari Awan Komet Oort.

Dengan permukaan yang menggelap dan memadat akibat tekanan radiasi sinar kosmis, bisa saja kita katakan Nibiru sulit dideteksi. Namun harus diingat, diameter sebuah benda langit berhubungan erat dengan magnitude-nya dan nanti akan kita lihat betapa klaim “Nibiru yang redup” ini tidak memiliki basis argumen. Yang melemahkan adalah diameternya. Dengan jarak rata2 235 - 1 = 234 AU atau 35,1 milyar km dari Bumi kita, benda langit yang diameternya 120.000 km itu seharusnya nampak sebagai titik cahaya dengan diameter 0,0034 mili radian atau 0,7 detik busur. Mata manusia (tanpa alat optik) memang takkan bisa melihat titik cahaya ini, mengingat batas resolusinya adalah 0,15 mili radian atau 31 detik busur. Namun dengan teleskop sederhana pun sebenarnya titik cahaya ini sudah nampak. Jika kita murni bertumpu pada kriteria Rayleigh, maka teleskop dengan lensa/cermin berdiameter minimal 30 cm yang bekerja pada spektrum panjang gelombang 7.000 Angstrom sudah cukup mudah mendeteksi titik cahaya ini, apalagi teleskop2 raksasa yang ada di Hawaii, Gunung Wilson maupun HST.

Sebagai pembanding, Pluto saja (diameter 2.274 km), yang dari Bumi nampak sebagai titik cahaya berdiameter 0,0004 miliradian alias 1/10 diameter titik cahaya Nibiru, sudah muncul dalam potret2 yang dibuat Lowell dari observatorium pribadinya di Flagstaff pada 1915, meski baru bisa diidentifikasi Tombaugh 12 tahun kemudian. Pluto nampak sebagai titik cahaya dengan magnitude +15. Logikanya, jika teknologi 1915 - 1930 saja sudah mampu membidik Pluto, tentunya untuk melacak Nibiru bukan persoalan sulit, kalo planet ini memang ada. Apalagi bisa diestimasikan Nibiru lebih cemerlang (magnitude-nya lebih kecil) dari Pluto karena diameternya jauh lebih besar.

Kedua, dikatakan gerakan planet Nibiru menuju ke tata surya bagian dalam. Jika dilihat grafis perbandingan orbit planet2 dan planet X, terkesan orbit Planet X/Nibiru berbentuk sangat lonjong alias memiliki eksentrisitas besar. Kita tahu bahwa orbit semacam ini adalah ciri khas orbit komet, dan kita juga sudah tahu dari jarak orbitnya Nibiru berada di region Awan Komet Oort, sumber komet2 berperiode panjang (> 200 tahun), komet parabolik dan hiperbolik. Komet2 periodik dari Awan Komet Oort memiliki ciri khas: eksentrisitas rata2 0,7 dan inklinasi 35 derajat. Karena eksentrisitas (e) orbit benda langit bergantung pada jarak Perihelion (P) dan Aphelion (A) nya lewat formula: (A - P)/(A + P) = e, untuk e = 0,7 kita dapatkan rasio A/P = 5,7. Karena jarak rata2 orbit planet (R) berhubungan dengan Aphelion dan Perihelionnya dalam formula - secara kasar - : 2R = A+ P, untuk e = 0,7 tadi kita dapatkan P = 70,1 AU. Ini masih sangat jauh dari Bumi kita (yang jaraknya 1 AU dari Matahari), bahkan masih lebih jauh dibanding Pluto, sehingga peluang Bumi dan Nibiru untuk berbenturan adalah nol. Bisa saja kita anggap Perihelion Nibiru Bisa saja kita anggap Perihelion Nibiru.

Ketiga, pada halaman dari artikel itu diberi judul “IRAS” dengan potongan artikel koran berjudul “Mystery Heavenly Body Found by Orbiting Infrared Telescope”. Namun penjelasan di halaman tersebut sama sekali tidak menyinggung apa itu IRAS. Paralel dengan isu Nibiru, di dunia astronomi pernah muncul hipotesis Nemesis, yakni bintang pasangan Matahari yang sangat redup (kemungkinan berupa cebol putih atau cebol coklat) yang bergerak mengelilingi Matahari dalam orbit elliptikal dengan Perihelion 20.000 AU, Aphelion 90.000 AU dan periode orbit 30juta tahun. Sehingga Matahari-Nemesis adalah sistem bintang kembar dengan pasangannya sangat redup hingga tak terlihat. Ini mengingatkan kita pada sistem sejenis di Cygnus X-1, dimana pasangannya juga tak nampak (dan kini diidentifikasi sebagai lubang hitam). Hipotesis Nemesis dibangun oleh geolog Daniel P. Whitmire dan John J. Matesse (1985) sebagai solusi bagi terjadinya peristiwa pemusnahan massal akibat hantaman komet ke Bumi yang selalu berulang setiap 30 juta tahun seperti yang direkam di lapisan2 sedimen.

Ini sejalan dengan gagasan Rampino, Stothers (1984) dan sang legenda: Carl Sagan (1985) yang juga berpendapat serupa lewat Hipotesis Shiva-nya, meski perulangan itu dikatakan terjadi tiap 35 juta tahun. Dengan gagasannya Whitmire dan Matessse membayangkan tiap 30 juta tahun sekali Nemesis melintas di dekat Awan Komet Oort dan gravitasinya membuat awan kometini sangat bergejolak hingga melepaskan ribuan kometisimal yang selanjutnya melesat ke tata surya bagian dalam akibat kombinasi gravitasi Nemesis dan Jupiter. Beberapa dari komet itu ‘mampir’ ke Bumi dan menimbulkan benturan hebat yang memusnahkan kehidupan secara massal. Sayangnya, ketika satelit IRAS (Infra Red Astronomical Satellite) diluncurkan awal 1980-an dan memetakan jagat raya pada spektrum sinar inframerah, Nemesis ternyata tidak pernah ditemukan.

Meski Nemesis dianggap sebagai bintang yang sangat redup, logikanya, karena masih membakar Hidrogen di terasnya, ia tetap memancarkan sinar inframerah yang kuat sebagaimana bintang2 cebol lainnya. Justru IRAS menemukan komet IRAS-Iraki-Alcox, komet redup yang melintas sejauh 5 juta km saja dari Bumi, komet terdekat selama ini. IRAS juga menemukan 3200 Phaethon, benda langit mirip asteroid namun menyemprotkan partikel2 dari permukaannya dengan bentuk mirip ekor komet dan dipastikan merupakan sumber dari hujan meteor (shower) Geminids yang terjadi tiap awal Desember. So, IRAS juga tidak pernah menyimpulkan telah ditemukan benda langit dengan ciri2 seperti Nibiru.

Nibiru dan Kiamat
Dari uraian tadi bisa disimpulkan, Nibiru tidak ada. Kalaupun planet itu ada, dengan sifat2 fisik dan orbitnya, peluangnya untuk masuk ke tata surya bagian dalam ataupun berbenturan dengan Bumi adalah nol. Meski begitu, saya merasa pembuat Selebaran Kiamat ini di sisi lain sedang mengingatkan kita betapa terbukanya potensi benturan Bumi dengan benda2 langit dari Awan Komet Oort maupun Sabuk Kuiper (baca: komet), meski Bumi sudah ditamengi Jupiter dan Bulan. Merujuk betapa banyaknya jejak kawah tumbukan di wajah Bulan, Barbara Cohen dan David Kring (2002) menyimpulkan Bumi pernah dihajar jutaan bolide sekitar 2,8 milyar tahun silampada peristiwa Late Heavy Bombardment. Hajaran itu membentuk sedikitnya 22.000 kawah tumbukan berdiameter lebih dari 20 km, dengan 40 kawah diantaranya benar2 berukuran raksasa dan layak disebut basin, mengingat diameternya lebih dari 1.000 km. Kini tak satupun darikawah2 itu yang tersisa, mengingat aktifnya dinamika permukaan Bumi oleh proses erosi dan gerakan lempeng2 tektonik.

Dua kawah tertua yang ada, masing2 Vredefort (Afrika Selatan, diameter 300 km) dan Sudbury (Canada, diameter 250 km) berasal dari masa yang lebih muda (2 milyar tahun silam). Andai hipotesis Shiva benar, jika kita menghitung balik dari dua peristiwa tumbukan benda langit terdahsyat terakhir, yakni peristiwa 65 juta tahun silam (musnahnya Dinosaurus, ditandai dengan terbentuknya Kawah raksasa Chicxulub) dan 35 juta tahun silam (terbentuknya Kawah Popigai di Russia, diameter 100 km, dan Kawah Chesapeake Bay di New YorkCity, diameter 95 km), nampaknya siklus bencana 30-35 juta tahun akan terulang lagi di masa kini, periode dimana manusia hidup. Berkait tumbukan ini, menarik sekali bahwa di region Asia Tenggara, sebagian Australia, Taiwan, China dan P. Madagaskar, bahkan ada juga yang mengatakan hinggake Eropa Tengah dan Texas, telah ditemukan tektit, yakni butir2 batuan beku khas produk tumbukan benda langit. Di Indonesia tektit ini bisa ditemukan di Jawa (terutama di Sangiran), Belitung, Kalimantan dan Ambon. Tektit yang disebut tektit austral-asia ini terjepit di sedimen berumur pleistosen tengah atau dari masa 0,77 juta tahun silam.

Di dalam tektit ini ditemukan pula mineral coesite, sejenis kuarsa yang termetamorfosis oleh tekanan luar biasa besar (200ribu ton per meter persegi!), yang secara alami hanya diproduksi oleh tumbukan benda langit. Jelas bahwa sebaran tektit austral-asia berasal dari tumbukan benda langit pada 0,77 juta tahun silam. Melihat betapa luas sebarannya, Edward Chao - yang bersama empat serangkai: Eugene Shoemaker (alm), Nicholas M. Short, B.M. French dan W von Engelhardt menjadi pionir penyelidikan dan pembuktian tumbukan benda langit di dekade 1960an - menyebut tektit itu bisa disamakan dengan sebaran global lempung hitam tipis yang terjepit di antara sedimen zaman Kapur danTersier. Lempung hitam ini jadi demikian populer karena amat kaya dengan iridium dan jadi salah satu penanda terjadinya tumbukan dahsyat 65 juta tahun silam, yang membentuk Kawah raksasa Chicxulub sembari mengiamatkan 75% populasi makhluk hidup saat itu. Maka skala tumbukan yang membentuk tektit austral-asiapun menyamai dahsyatnya pembentukan Kawah Chicxulub.

Hampir semua paper yang mengupas genesis tektitaustral-asia menyebut kawasan Asia Tenggara merupakan titik permukaan Bumi yang dihantam bolide pada 0,77 juta tahun silam itu. Menariknya, survey di Laut Cina Selatan selama 1 dekade (1989 - 1999) menggunakan satelit GEOSAT dan SEASAT berhasil mendeteksi sebuah struktur sirkular raksasa berdiameter 100 km di 13° 36′ LU 110° 30′ BT. Meski belum diteliti lebih lanjut (karena untuk itu perlu dibor dan dicek tipe batuannya) diduga kuat inilah kawah raksasa itu. Satu hal yang harus diingat, meski (anggaplah) tumbukan versi hipotesis Shiva itu sudah terjadi 0,77 juta tahun silam, dalam sejarahnya jarang sekali dijumpai tumbukan benda langit (terutama yang membentuk kawah2 raksasa) dari bolide tunggal, kebanyakan dihasilkan oleh beragam bolide yang datang secara berentetan selama 1-2 juta tahun (rentang waktu yang tergolong pendek dalam skala waktu geologi). Pola khas ini nampak dari terbentuknya kawah Chicxulub yang segera diikuti dengan pembentukan 7 buah kawah tumbukan lain, masing2 Eagle Butte (Canada), Gusev (Russia), Belize (Meksiko), Alvaro Obregon (Meksiko), Haiti (Laut Karibia), Silverpit (lepas pantai Inggris) dan sau kawah tak bernama di dasar Samudera Pasifik.

Begitu pula terbentuknya Popigai, yang langsung disusul dengan munculnya kawah Chesapeake Bay (AS) dan struktur Fohn di celah Timor. Dan kawah di Laut Cina Selatan ini? Memang sebelumnya telah terbentuk kawah Zhamanshin (Kazakhstan, diameter 14 km, 0,9 juta tahun silam), Bosumtwi (Ghana, diameter 10,5 km, 1,1 juta tahun silam), Eltanin (Laut Bellingshausen, diameter 40 km, 2,15 juta tahun silam) dan Kara-Kul (Tajikistan, diameter 50 km, 3 juta tahun silam). Namun kita tidak pernah tahu apakah kawah di Laut Cina Selatan tadi merupakan “penutup” rangkaian tumbukan itu atau hanya bagian dari sejarah mencekam yang sedang bergulir sampai detik ini. Ketiadaan bukti belum merupakan bukti dari ketiadaan Planet X ini. Pencarian terhadap Planet X tidak begitu saja berhenti di sini. Siapa tahu suatu saat memang betul2 ada…??? Wallahu a’lam bissawab…